Sembilan Tahun

Alhamdulillah, Allah masih memberiku napas hingga bisa bertemu dengan tanggal 29 di bulan April. Sebnarnya saya bingung mau menulis tentang apa untuk tanggal 30 besok. Saya mencoba istiqomah menulis minimal satu buah tulisan setiap bulan. Jadi, besok paling lambat. Tapi, tak terduga tadi pagi saya menemukan sesuatu yang mungkin susah untuk dilupakan. Sesuatu yang barangkali akan mengubah hudup saya seumur hidup. Tapi, saya pikir pikir lebih sepertinya saya tidak akan menuliskan sesuatu itu secara nyata.

9 Tahun

Cukup saya kasih tahu bahwa, tadi pagi saya telah bertemu dengan seorang wanita yang memiliki beda usia 9 tahun dengan saya.

Kebetulan sekali, beberapa hari yang lalu saya terpikir untuk membuat sebuah cerita misteri tentang pembunuhan. Cerita ini adalah cerita ke-3 (Kalau saya tidak salah). Cerita sebelumnya sudah hampir mendekati finish, tetapi entah mengapa saya mulai bingung dengan endingnya. Nah, cerita yang sedang haot-hotnya saya buat ini sudah sekitar 50 halaman. Jadi, rencananya mau dibikin sejenis mini novel. Cerita ini adalah salah satu proyek saya yang nantinya akan dibaca oleh siswa saya sehubungan dengan pelajaran Logika Matematika.

Ok, tidak perlu banyak cerita pembukaan, judul novel saya selanjutnya sama seperti judul postingan ini, SEMBILAN TAHUN.

Tokoh utama: Bintang, biasa dipanggil Tata

Tokoh kedua: Langit biasa dipanggil Alan

Tata mempunyai seorang ayah yang baru saja meninggal dunia karena kanker hati. Suatu hari, dalam wawancara penjurusan kelas ia mendapat pertanyaan yang sedikit aneh dari gurunya. Bagus Sekar Bumi, seorang guru Kimia di sekolahnya. Salah satu pertanyaan guru tersebut membuatnya merasa curiga. Akhirnya, kecurigaan tersebut berlanjut pada penemuan bahwa sebenarnya ayahnya telah dibunuh, diracun lebih tepatnya. Bersama Langit, dan Nair al Saif serta beberapa orang lainnya, ia berusaha menmukan siapa dibalik pembunuh ayahnya. Mampukah Tata menemukan siapa pembunuh tersebut? Ataukah nyawanya akan melayang seperti salah satu saksi kunci pembunuhan itu? Jawabannya masih belum diketahui karena cerita saya belum selesai.

Ada satu kutipan menarik yang saya ambil dari sebuah syair,

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka

Cerita ini tidak sepnuhnya fiksi, juga bukan sepenuhnya fakta.

An Unforgottable Smile (A Mini Novel)

Suatu kali Nilam mengikuti lomba di sebuah sekolah. Ternyata dia bertemu dengan seorang siswa bernama Izza. Izza menolongnya ketika Nilam hampir jatuh karena terkena bola. Beberapa hari kemudian ternyata Izza pindah sekolah di mana Nilam sekolah. Duduk di kelas yang sama membuat Nilam merasa serba salah. Karena diam-diam Nilam suka dengan Izza.

Sementara itu sekolah akan mengadakan ulang tahun, Panitia membuat sebuah kotak berisi kenang-kenangan yang akan dibuka apabila salah seorang siswa di sekolah itu mempunyai anak yang juga di sekolah tersebut. Kenang-kenagna itu akan disimpan rapat di sebuah wadah yang disebut kapsul waktu. Suatu saat kapsul itu akan dibuka. Semua siswa dan juga guru boleh memasukan apa saja kenang-kenangan itu.

Penanaman kapsul waktu dilakukan pada malam hari bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun sekolah. Ada beberapa kegiatan diantaranya pameran foto siswa, perlombaan perlombaan, serta pasar malam. Acara terakhir adalah penanaman kapsul.

Keesokan harinya Izza tidak hadir ke sekolah. Dia tidak pernah hadir lagi ke sekolah. Sampai suatu hari di bulan januari yang cerah. Seorang wanita tua mendatangi sekolah. Menanyakan keberadaan Izza. Tapi wanita itu tak pernah sampai ke rumah. Mobil yang ditumpanginya slip sehingga masuk ke dalam sungai.

Izza telah menghilang. Tak seorangpun tahu kemana Izza pergi. Kecuali Nilam yang sejak awal memperhatikan pembuatan kapsul waktu.

Rentetan letupan kembang api, wajah misterius Izza, kapsul yang sangat besar dan hilangnya Izza membuat Nilam kebingungan.

Mampukah Nilam melihat senyum Izza yang tak bisa dilupakannya?

The Hobbit

Film yang paling ditunggu-tunggu penggemar TLOTR akhirnya keluar juga.

‘The Hobbit: An Unexpected Journey’

The Hobbit: An Unexpected Journey

Sayangnya di tempat saya tinggal sangat jauh dari bioskop. Jadi cuma bisa menunggu kalaau ada link download.

Film penutup akhir tahun yang paling bagus. Apalagi kalau melihat tekhnologi yang dipakai untuk film. Tapi entahlah, apakah di bioskop seluruh indonesia bisa memutar film ini dalam versi tampilan yang terbaru.

Kabarnya The Hobbit yang sebenarnya satu buku, dipecah menjadi tiga bagian

An Unexpected Journey (2012)

The Desolation of Smaug (2013)

There and Back Again (2014)

Bagi yangpengen tahu ceritanya, maaf karena saya belum nonton, tapi coba saja lihat resensi menarik di [Resensi] The Hobbit : An Unexpected Journey – Pondasi Kokoh Bagi Era Baru Middle Earth.

Have a nice watch!

The Kite Runner (Part I)

Tadi malam saya membaca sebuah novel tentang childhood story. Saya pikir novel tersebut akan habis saya baca, ternyata ga sampai setengah saya sudah ngantuk. Tapi bukan karena ceritanya tidak menarik, justru karena ceritanya sangat menarik jadi ketika sudah tengah malam, saya tidak ingin melewatkan setiap kata di novel tersebut dalam keadaan mata saya dipaksa terbuka. Saya akan cerita sedikit tentang novel tersebut.

Novel tersebut berjudul The Kite Runner, karya Khaled Huseini penulis berkebangsaan Afganistan. Novel ini pernah menjadi #1 Best Seller di Amerika selama 2 tahun berturut-turut serta sudah difilmkan dan mendapat beberapa penghargaan.

The Kite Runner (Movie)
The Kite Runner (Movie)

Sebelum menemukan novelnya, tak sengaja  saya melihat cover filmnya. Saya pikir film tersebut sangat menarik. Apalagi judulnya, The Kite Runner, kisah pengejar layang-layang. Dari trailernya pun sudah membuat saya tertarik untuk meontonnya. Tapi, ketika sedang mencari link download untuk film tersebut, ada komentar bloger yang bilang kalau novelnya juga bagus. Berdasarkan pengalaman, biasanya film yang diadaptasi dari novel tidak terlalu menarik. Contohnya saja Ayat-Ayat Cinta, saya benar-benar kecewa ketika menontonnya. Jadi, saya pikir lebih baik membaca novelnya saja. read more