Monsieur Lazhar: Kepompong yang Tak Pernah Menjadi Kupu-Kupu

Pohon dan Kepompong
MLa2
Setelah kematian tidak adil,
tidak ada yang perlu dikatakan
Tidak ada sama sekali.
Sebagaimana kecantikan.

Dari cabang pohon zaitun,
ada tergantung sebuah kepompong kecil berwarna zamrud.
Besok akan menjadi kupu-kupu, dibebaskan dari kepompong itu.
Pohon itu senang melihat kepompong telah tumbuh,
tapi diam-diam, ia ingin agar kepompong ini bersamanya sedikit lebih lama.
“Selama dia ingat saya.”

Yang melindunginya dari hembusan,
menyelamatkannya dari semut.
Tapi besok dia akan pergi
untuk berhadapan dengan predator dan cuaca buruk.
Malam itu, kebakaran melanda hutan,
dan kepompong tidak pernah menjadi kupu-kupu.

Saat fajar, di abu yang dingin,
pohon itu masih berdiri,
tetapi hatinya hangus,
terluka oleh api,
terluka oleh kesedihan.
Terluka oleh kesedihan.

Sejak saat itu,
ketika seekor burung hinggap di pohon,
pohon itu mengatakan tentang kepompong yang tidak pernah terbangun.
Ia membayangkan, sayapnya membentang,
melayang di langit yang biru jernih,
Menikmati madu bunga dan kebebasan,
saksi yang bijaksana tentang cerita cinta kita.

Monsieur Lazhar


Hari ini saya menyempatkan diri untuk menonton Film Kanada berbahasa Prancis berjudul Monsieur Lazhar. Sebenarnya ini film yang sudah cukup lama, dan sudah cukup lama juga tersimpan di laptop. Beberapa hari sebelumnya sempat nonton bersama siswa-siswi kelas X, tetapi avorithanya setengah karena waktu yang sedikit. Akhirnya, hari ini sempat untuk menontonnya.

Monsieur Lazhar, mengangkat tema yang cukup sederhana yaitu kematian seorang guru kelas yang bunuh diri di dalam kelasnya dan menimbulkan kesedihan pada diri anak-anak yang ditinggalkan. Seorang guru pengganti diterima untuk menggantikan guru yang meninggal tersebut. Adalah Bachir Lazhar, seorang berkebangsaan Aljazair yang menjadi guru pengganti. Sebenarnyaa guru tersbut sedang mengalami masalah yang jauh lebih sulit, di mana dia sedang mencari suaka di Kanada. Dia sebenarnya bukan seorang guru, sehingga menggunakan cara konvensional ketika mengajar di kelas. Dia berusaha membawa para siswa dari kesedihan karena ditinggalkan oleh guru mereka, Martine.

Tokoh penting lain adalah Simon, seorang anak laki-laki yang pertama kali melihat Martine tergantung di dalam kelas. Siswa lain adalah Alice, teman akrab Simon. Bekangan diketahu bahwa Simon merasa bersalah atas kematian Martine. Tetapi, sebenarnya tidak dijelaskan apa sebab Bu Martine gantung diri di dalam kelas. Simon adalah siswa yang sepertinya kurang mendapat perhatian dari orang tua (mungkin anak yatim), sehingga Bu Martine pernah mengajari PR Simon. Suatu kali Simon pernah meangis dan Bu Martine yang menyayangi semua siswanya memberikan pelukan kecil pada Simon. Tetapi Simon mendorong Bu Martin karena menganggap itu sebuah ciuman.

Kematian seorang guru yang dicintai rupanya membawa kesedihan yang cukup mendalam bagi para siswa. Sering kali dalam pelajaran para siswa mengungkit-ungkit kematian Bu Martine. Para siswa sangat dewasa sekali menyikapi kematian Bu Martine sehingga mampu menyembunyikan kesedihan itu. Di akhir tahun, Lazhar berhasil membuat para siswa lebih baik dalam mengahapi kasus tersebut. Namun, rupanya sekolah mengetahui identitasLazhar yang sesungguhnya sehingga kepala sekolah memberhentikannya. Sebelum pergi, Lazhar meminta kepada kepala sekolah untuk mengajar untuk yang terakhir kalinya. Kepala sekolah hampir menolak, tetapi Lazhar tidak ingin pergi tanpa pamit sebagaimana yang dilakukan Bu Martien sehingga menimbulakn akibat yang buruk bagi siswa.

Sebelumnya, Mr. Bachir pernah memberikan tugas bagi siswa untuk membuat sebuah dongeng. Tetapi, para siswa merasa keberatan. Mr. Bachir berjanji akan membuat dongeng juga sehingga para siswa menyetujui. Di akhir pertemuan tersebut Mr. Bachir membacakan dongenngya. Bunyi dongeng itu yang saya tulis di bagian awal tulisan ini. Ketika melihat dan memakani dongeng yang dibacakan itu, tanpa sengaja bulir-bulir kecil menetes dari mata saya (jadi malu).

Ya, donegeng yang disampaikan Mr. Bachir adalah eksekusi yang sangat indah dari film ini. Masalah yang disampaikan memang sederhana, ending film ini pun sangat sederhana, tetapi kita akan mengingatnya dengan baik.

Dari dongen tersebut, seperinya Mr. Bachir ingin menyampaikan pada para siswa bahwa Bu Martine seperti sebuah kepompong yang tak pernah bangun, dan pohon zaitun yang terbakar adalah para siswa yang terluka oleh kesedihan.

Budayakan tinggalkan komentar dengan bijak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s