Masih Hidup atau Sudah Meninggal

Hari ini saya merasa sedikit ellfeel. Kenapa sebabnya? Sebenarnya tidak ada alasan bagi saya untuk merasa sakit hati. tapi, pada kenyataannya setiap apa yang kita rasakan pasti ada sebabnya. Tapi, entahlah mengapa hanya karena hal sepele saja saya jadi merasa ellfeel. Mungkin itu salah satu sifat buruk saya, karena masalah kecil saja saya bisa kesel.

Tadi malam saya tak bisa tidur karena ada pekerjaan sekolah. Jamannya libur tapi saya masih sekolah, nasib. Pagi-pagi sekali saya mengobrak abrik data di kantor sekolah. Data tentang siswa miskin. Tak sengaja saya melihat sebuah buku gede kayak buku gambar warna biru langit. Saya kira ada gambar yang menarik. Tapi bener kok buku tersebut memang ada gambar yang menarik. Foto siswa.

Coba lihat foto berikut ini.

Image

atau yang ini

Image

or

Image

nah klo yang ini mirip di film apa ya?

Image

saya jadi ingat foto saya waktu SD. Sumpah bikin saya malu, bahkan saya sendiri ga mau melihat, #karena gambarnya sudah kabur.

Tp ngomong2 mengapa saya upload foto itu bingung juga. Sebenarnya bukan foto itu yang tadi bikin saya illfeel. Tapi rada illfeel juga krn saya ga nemu foto saya waktu SD.

Nah, pertayaan di judul itu yang bikin saya illfeel. Yang pertama saya bacca di buku yang berjudul Buku Induk itu adalah “anak yatim”. Kebetulan banget, saya sedang mencari anak yatim yang bisa diusulkan mendapat bantuan. Tapi, sayangnya data anak SMP yang saya lihat, padahal yang saya cari data siswa SMA.

Bingung, apa yang mau saya tulis. Oya, kata-kata “anak yatim” itu yang bikin saya illfeel. Bukan kenapanapa, ccuma cara buku itu menulis: Anak yatim/piatu/yatim piatu. Di isian, oleh sekolah ditulis “anak yatim”. Entah mengapa saya lebih suka jika mereka menulis “yatim” saja tanpa pakai “anak”.

Tapi, ini nih yang bikin saya kesel ga jelas. Di halaman samping ada form yang harus diisi juga. Tentang biodata orang tua, “Masih hidup / Sudah mati”. Entah kata-kata “mati” atau “meninggal” yang dipakai saya lupa pokoknya saya kurang suka. Petanyaan itu seolah-olah tembakan seccara langsung. Seperti orang mau nembak apel, tapi ujung senjata sudah nempel, jadi pasti kena.

Kalau saya ditanya seperti itu mungkin saya ga akan menjawab.

#yang punya foto maaf ya, . . .

4 thoughts on “Masih Hidup atau Sudah Meninggal

  1. Hehehe, jangan cepat kesal, ntar lekas tua😀

    Mungkin perlu pembenahan dalam penulisan kalimat, biar enggak ada yang tersakiti hehe. Bahwa jangan menulis anak yatim atau sudah meninggal😀

    Saya tertipu lho sama judul postingan diatas, saya pikir anak-anak di foto tadi yang masih hidup atau meninggal😦 . Rupanyaaaaa😀

    Eh, salam kenal ya🙂

  2. iya bener, yang terakhir kaya pernah liat di film.

    saya ga pernah kepikiran sih, soal penggunaan kata “anak” di yatim. tanpa kata anak munkin kedengarannya lebih halus. tapi disisi lain juga jadi agak janggal kalo ga ada kata “anak”. mungkin karena udah kebiasaan ya?
    tapi saya juga kepikiran, kalo tanpa penjelas anak, mungkin bisa muncul kesalah pahaman, nanti dikiranya “Yatim” itu nama orang.

    aduh, maaf, komennya jadi ga bermutu gini.

Budayakan tinggalkan komentar dengan bijak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s