The Kite Runner (Part I)

Tadi malam saya membaca sebuah novel tentang childhood story. Saya pikir novel tersebut akan habis saya baca, ternyata ga sampai setengah saya sudah ngantuk. Tapi bukan karena ceritanya tidak menarik, justru karena ceritanya sangat menarik jadi ketika sudah tengah malam, saya tidak ingin melewatkan setiap kata di novel tersebut dalam keadaan mata saya dipaksa terbuka. Saya akan cerita sedikit tentang novel tersebut.

Novel tersebut berjudul The Kite Runner, karya Khaled Huseini penulis berkebangsaan Afganistan. Novel ini pernah menjadi #1 Best Seller di Amerika selama 2 tahun berturut-turut serta sudah difilmkan dan mendapat beberapa penghargaan.

The Kite Runner (Movie)
The Kite Runner (Movie)

Sebelum menemukan novelnya, tak sengaja  saya melihat cover filmnya. Saya pikir film tersebut sangat menarik. Apalagi judulnya, The Kite Runner, kisah pengejar layang-layang. Dari trailernya pun sudah membuat saya tertarik untuk meontonnya. Tapi, ketika sedang mencari link download untuk film tersebut, ada komentar bloger yang bilang kalau novelnya juga bagus. Berdasarkan pengalaman, biasanya film yang diadaptasi dari novel tidak terlalu menarik. Contohnya saja Ayat-Ayat Cinta, saya benar-benar kecewa ketika menontonnya. Jadi, saya pikir lebih baik membaca novelnya saja.

Ketika membaca halaman pertama di bab 1, saya fikir ini adalah kisah masa lalu yang buruk (dan juga baik) yang mencoba masuk kembali dalam ingatan Amir (tokoh utama). Sebagaimana penulis membuka bab pertama dengan kata-kata yang bermakna dan indah.

…, about how you can bury it. Because the past claws its way out. Looking back now, I realize I havebeen peeking into that deserted alley for the last twenty-six years.’

Kita tak pernah bisa mengubur masa lalu. Karena bagaimanapun masa lalu akan mencoba menyeruak mecari jalan keluar. Sekarang saat aku  kembali melihat ke  masa lalu, aku menyadari bahwa aku telah mengintip gang sempit yang terbengkelai itu selama 26 tahun.’

Kemudian salah satu bagian novel tersebut berbunyi

There is a way to be good again

Yang ditujukan untuk Amir, membuat saya berfikir-fikir ada kesalahan apa yang telah dilakukan oleh Amir.

Kata-kata lain yang juga membuat saya tersentuh adalah

For you, a thousand times over’

yang diucapkan oleh Hassan.

Novel ini membuat saya ingin segera menyelesaikan setiap halaman dan membuka halaman selanjutnya karena penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.

Pada halaman-halaman selanjutnya dikisahkan bagaimana masa kecil Amir dan Hassan yang indah.

Amir adalah seorang anak laki-laki dari etnis Pashtun yang pada umumnya muslim sunni. Ayahnya Baba adalah seorang yang cukup kaya di sekitar Kabul. Ibu Amir meninggal beberapa hari setelah kelahirannya. Mereka tinggal di rumah berlantai dua. Di belakang rumah bereka terdapat bangunan dari tanah liat. Nah di tempat itulah tinggal seorang anak laki-laki bermata sipit dan juga agak pesek yang tinggal dengan seorang laki-laki cacat kakinya karena penyakit polio. Dialah Hassan. Menurut keterangan dari beberapa tokoh di novel tersebut, Hassan dan ayahnya; Ali adalah etnis Hazara. Etnis ini pada umumnya merupakan golongan Syi’ah.

Dulu, sebelum Ali tinggal di belakang rumah Baba sebagai pembantu, di Kabul terjadi kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri. Anak pasangan tersebut kemudian diambil oleh kakeknya Amir. Nah, anak tersebut adalah Ali.

Hassan dilahirkan satu tahun kemudian setelah Amir lahir. Tidak seperti Amir yang lahir di rumahnya yang indah, Hassan dilahirkan di rumahnya yang terbuat dari tanah liat. Rumah itu sebenarnya milik Baba, tapi karena Ali dan Hassan bekerja sebagai pembantu di rumah Baba, maka mereka tinggal di rumah tersebut.

Setelah beberapa hari lahir, ibu Hassan yang sebenarnya bukan perempuan baik-baik pergi entah kemana. Menurut kabar ia pergi bersama penyanyi jalanan. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu kisah yang menyedihkan yang pernah saya baca sehingga saya harus menyediakan tisu ketika membacanya: Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Tapi, salah satu bagian novel yang menguras air mata saya adalah Hassan yang miskin dan tak pernah melihat wajah ibunya tersebut lahir dengan bibir sumbing.

Hassan yang menumpang di rumah Amir tidak sekolah. Jadi dia tidak bisa membaca. Tapi, kecerdasannya tak lebih buruk dibanding Amir. Kadang-kadang Amir membacakan cerita untuk Hassan.

Kenangan lain yang perlu dicatat adalah mereka menggoreskan nama mereka di sebatang pohon delima dan bermain layang-layang pada musim dingin. Dari bermain layang-layang tersebut saya baru tahu makna

For you, a thousand times over’

Rupanya Hassan selalu mengejar layang-layang untuk tuannya sekaligus temannya: Amir.

Untukmu keseribu kalinya

Mungkin bukan seribu kali Hassan menangkap layang-layang untuk Amir, maksudnya mungkin Hassan sudah menangkap layang-layang untuk Amir sekian banyaknya.

Persahabatan dan kesetiaan yang tulus dari seorang Hazara.

Satu hal lagi yang membuat saya harus menyeka air mata adalah ketika ulang tahun Hassan. Hadiah apakah yang diterima Hassan? Ternyata Baba mendatangkan seorang ahli bedah untuk mengoprasi bibir Hassan yang sumbing. Sehingga Hassan bisa tersenyum dengan manis dan gari merah muda di bibirnya. Tapi senyum itu hanya terjadi beberapa saat karena setelah it, persahabatan Amir dan Hassan begitu indah, harus ternoda karena suatu kejadian di ujung pada musim dingin.

Yah, mungkin kejadian itu adalah bagian penting dalam novel ini. Kejadian yang membuat pembaca pasti akan mengeca keras pada Amir. Bagaimana mungkin Hassan yang begitu baik pada Amir, dikhianati.

Kejadian itu yang nantinya akan membuat Ali dan Hassan harus meninggalkan rumah dari tanah liat yang sudah belasan tahun didiami Hassan.

Kejadian tragis di ujung gang pada musim dingin itu akan saya lanjutkan di posting saya selanjutnya.

6 thoughts on “The Kite Runner (Part I)

  1. aaiiihh saya selalu tak suka akan cerita yang setengah2 hehehe but anyway good review too. udah baca novelnya dan udah liat filmnya juga, kedua2nya bagus kok, rugi klo nggak liat filmnya🙂

Budayakan tinggalkan komentar dengan bijak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s