My First Students Part VIII: Teaching Disability

Pernah dengar Learning Disability atau LD? Ld adalah istilah yang dilekatkan pada anak atau individu yang memiliki cara atau gaya belajar yang berbeda (learning differences). Say fikir Learning disability atau ketidak-mampuan belajar adalah istilah yang kejam karena dinilai semena-mena dan memberi konotasi negatif pada siswa yang dicap tersebut, seolah-olah mereka adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan dan tidak mampu belajar dengan baik. Tak jarang masayrakat mengatakan anak LD memperoleh stigma negatif, misalnya bodoh, nakal, jahat, troublemaker, dan lain-lain.

Tengoklah sebentar kalimat-kalimat berikut:

  • Einstein suka melamun. Dia bahkan gagal dalam pelajaran matematika di awal SMA. Namun, kemudian dia menjadi ilmuwan terbesar pada jamannya.
  • Thomas Alva Edison dipukul di sekolahnya karena gurunya mengganggap dia “suka bingung” karena mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Namun, suatu hari dia berhasil menciptakan lampu.
  • Woodrow Wilson (presiden Amerika Serikat), belum bisa membaca sampai berusia sebelas tahun.
  • dll

Mereka adalah contoh orang yang semasa kecil dapat dikatakan mengalami LD. Namun, akirnya mereka berhasil menjadi orang yang terkenal.

Saya fikir istilah Learning Disability harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan (ini jadi mirip proklamasi). Serius, Learning Disability harus diganti dengan Teaching Disability-Ketidakmampuan Mengajar. Learning Disability cenderung seolah-olah siswa yang bersalah dalam belajar, padahal banyak faktor yang mempengaruhi belajar, salah satunya adalah guru. Saya sering teringat cita-cita saya dulu ketika di SMP, ingin menjadi guru bahasa, kenapa karena saya suka pelajaran bahasa indonesia. Kenapa saya suka pelajaran bahasa indonesia? Karena guru yang mengajar enak. Namun, ketika saya menginjak masa SMA, saya ingin menjadi guru kimia, sebab utama karena saya suka cara guru yang mengajar. baru-baru ini saya dengar dari salah seorang adik kelas, hampir 10 mahasiswa dari sekolah yang mengambil kuliah program studi Fisika, sebabnya mereka suka Fisika, karena eh karena guru yang mengajar mudah dipahami. Saya sering mengalami sendiri, tadi apa, bahasa Indonesia, saya males belajar pas SMA, gurunya membosankan, begitu pula dengan pelajaran lain. Pokoknya intinya cara guru mengajar.

Well, dalam part ini saya ingin menceritakan bagaimana ketikmampuan saya mengajar di sekolah ini, MIS Darul Ulum. Saya masih perlu begitu banyak pengalaman dan pengetahuan untuk bisa mengatasi masalah yang saya derita: Teaching Disability.

Ada 2 ruang yang menurut saya, ketidakmamuan mengajar saya cukup parah. Yang pertama kelas V ruang A dan yang ke dua Kelas VI ruang B. Saya tidak tahu apakah sekolah ini menerapkan salah satu sistem jahat dalam dunia pendidikan: Tracking atau tidak. Tracking adalah istilah yang digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkatan kognitifnya. Jadi, kalau ada 5 ruang, pastilahruang E adalah ruang yang sering mendapat cercaan bodoh, bandel atau bebal. Semoga pengelompokan kelas hanya kebetulan saja. Namun, saya melihat perbedaan yang cukup (mungkin tidak signifikan) terutama kelas v A dan kelas V B. Kelas 5 A lebih didominasi siswa laki-laki. 24 siswa laki-laki dari 38 siswa. Selain itu, ini adalah kelas yang siswanya lebih heterogen cara belajarnya. Ketidakmampuan mengajar saya yang pertama di kelas V A, kemudian VI B, VI A dan V B. Kalu kelas 5 A didominasi laki-laki, sebaliknya kelas VI B didominasi siswa perempuan. Siswa perempuan ada 24 dari 33 siswa.

Sebagai guru yang baru keluar dari kandang, saya mencoba menggunakan apa yang saya pelajari di kampus untuk mendidik siswa di sekolah ini. Namun, semua cara yang saya gunakan tidak berhasil, terutama di kelas V A dan VI B. Tercatat ada 2 kejadian yang sangat parah, unforgottable, memalukan, menyedihkan, semua rasa bercampur jadi satu. Ini mungkin salah satu bukti ketik-mampuan saya dalam mengajar, sehingga saya merasa perlu untuk terus belajar dalam mengajarkan matematika.

Cukup, itu cerita ketidak-mampuan saya dalam mengajar. Semoga cukup mereka siswa-siswa saya yang pernah merasakan pukulan dari saya. Saya akui, seumur hidup belajar di sekolah tidak pernah sekalipun dipukul oleh guru, maka dari utu saya sangat menyesal sekali telah melakukan kekerasan dalam dunia pendidikan.

3 thoughts on “My First Students Part VIII: Teaching Disability

    • memang guru juga manusia, saya sebagai ibu dua anak yg males belajar aja rasanya gemeeesss banget, anyway saya suka anda sebagai guru yg peduli akan siswa-nya, dan gak malu mengakui soal teaching disability, it’s great! hope all Indonesian teachers do that🙂

Budayakan tinggalkan komentar dengan bijak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s