Key

Hari ini berawal dari kunci. Kehilangan kunci. Hal yang biasa. Ya, ini hal yang biasa-biasa saja. Tapi itu terjadi padaku hari ini. Aku ingat, ketika malam hari kunci kuletakkan di kantong baju, karena sering gerak kesana kemari aku pikir akan aman jika kunci kuletakkan di dalam tas. Reett (buka tas), “plung” masuk ke dalam tas.

Pagi harinya. Kok ga ada di dalam tas. Jangan2 salah masukan ke dalam tas, cari di dalam tas teman tp ga ketemu juga. Ya sudahlah, pasrah. Shalat 2 rakaat. Cari lagi ga ketemu juga. Ya, sudahlah lagi. Tertunda pulang ke rumah. Padahal pagi in harus buat daftar pertanyaan dan saran dari dosen.

Tunggu beberapa saat, akhirnya keluar ide bikin duplikat kunci. setelah diotak atik, akhirnya motor bisa jalan. Setelah buat duplikatnya, “horeee!” begitu kira2 dalam hati, bukannya alhamdulillah, makanya ketiban sial yang kedua.

Sesampai di kos, ternyata teman yang dititipi kunci sudah berangkat kuliah. huh, padahal mau makai notebook. Sekali lagi, ya sudahlah. Hari inibanyak yang tertunda gara-gara kunci. Mungkin karena selama ini menyepelekan kunci. Sampai sampai hampir satu tahun ga pernah ngunci kamar kos.

Ingat kunci jadi ingat kisah nabi Sulaiman yang dijelaskan tadi malam. Seandainya semua orang ingin memberi rezeki kepada seseorang, tapi Allah tidak berkehendak, maka tak akan terjadi. Meskipun kunci sudah diamankan, tapi kalau Allah berkehendak, bisa saja hilang, mungkin lupa atau apa.

“Suatu hari (ini kaya jaman SD, selalu dimaulai dari “suatu hari”) Nabi Sulaiman bertemu dengan tukang cari rumput. Nabi Sulaiman tidak suka melihat rakyatnya miskin, maka Nabi Sulaiman masukan batangan2 emas kedlaam karung rumput tukang rumput tersebut.Singkat cerita tukang rumput tersebut kemalaman dan kecapekan sehingga keberatan membawa rumput. Kemudian ditinggalnya rumput tersebut. Kemudian Nabi Sulaiman mengunjungi tukang tersebut, tetapi dia tetap mencari rumpu, padahal Nabi Sulaiman ingin melihat ekspresi kebahagian tukang rumput tersebut. Maka, Nabi Sulaiman memberi tukang rumput tersebut semangka yang di dalamnya sudah diisi mutiara. Namu, setelah tukang rumput tersebut menerima buah tersebut, dia berfikir semangka itu terlalu kecil dan taka akn cukup untuk keluarganya, maka dia berikan buah itu kepada tetangganya. Keesokan paginya Nabi Sulaiman mengunjungi tukang rumput tersebut, teapi kondisinya tetap, orang tersebut masih merumput. Masih miskin. Maka Nabi Sulaiman memberi orang tersebut surat yang ditujukan kepada gubernur agar meberi harta yang diminta kepada orang yang membawa surat tersebut. Akan tetapi tukang tersebut buta huruf, maka dia takut kalau ditangkapa oleh gubernur sehingga surat tersebut diberikan kepada tetangganya. Tetangganya pun kaya raya. Keesokan paginya Nabi Sulaiman masih melihat tukang rumput tersebut sibuk mencari rumput. Maka, beluiau segera beristighfar kepad Allah, bahwa beliau tidak bisa memberikan kemanfaatan kepada makhluk lain meskipun hanya seorang manusia tanpa kehendak Allah”

Budayakan tinggalkan komentar dengan bijak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s