Gift of Me

Alhamdulillah, tengah malam yang dingin berhasil nyelesaikan packing-packing hadiah buat anak-anak. Yup, cuma ini yang bisa saya berikan untuk siswa-siswa yang sangat saya cintai. Mereak yang beruntung dapat hadiah bukan hanya siswa yang pandai dalam matematika, tetapi adalah siswa-siswa saya yang dengan rajinnya melawan ganasnya pelajaran matematika.

Hanya beberapa potongan hadiah untuk my first students yang saya sayangi

Semoga, dengan hadiah yang tidak seberapa ini, mereka memiliki motivasi bahwa sekecil apapun usaha yang dilakukan meskipun gagal, masih bermanfaat. Kegagalan hari ini adalah pijakan menuju kesuksesan selanjutnya. Jangan mudah beputus asa dalam setiap kegagalan karena orang yang sukses bukannya orang yang tak pernah gagal, tetapi orang yang sukses adalah orang yang selalu bangkit dalam setiap kegagalan.

 

Categories: Tak Berkategori | 2 Komentar

My First Students Part IX: Agent of Change (Girls)

Nah, kalo sebelumnya saya posting siswa laki-laki, sekarang saya posting siswa perempuan. Banyak siswa yang tidak mengumpulkan data sehingga dalam penulisan ini masih banyak kekurangan.

Categories: Education | Tinggalkan Komentar

Hasil Ulangan Matematika Part II

Alhamdulillah, hari ini saya bisa melanjutkan tulisan di blog ini. Mungkin ini karena desakan mulai tanggal 24 Desember 2011 saya akan sulit untuk menulis blog ini. Jadi, mulai sekarang setiap waktu luang akan saya gunakan untuk menyelesaikan past yang terbengkelai ini.

Well, setelah melalui pertempuran sengit antara siswa saya, kelas V dan VI dengan musuh bebuyutan mereka, siapa lagi kalau bukan Matematika, hasilnya bisa dilihat. Memang Matematika seolah momok yang menakutkan bagi sebagian besar siswa. Hasil yang diperoleh menunjukkan sebagian besar siswa kalah dihajar habis-habisan oleh 50 soal matematika dalam waktu 120 menit.

Berikut ini adalah hasil perolehan mereka.

Kelas VI
80 Mirna
76 Agisna
76 Rizki annor
72 Diana
68 Novita Umami
64 Rifka Sauma Ramadania
62 Pahriannor
50 Fatimah
56 Jahrawati
56 Ibrahim
56 Prasetya Putra Sanjaya
54 Hadijah
54 Dinda Safitri
54 Nor Jannah
54 Nor Halimah
54 Mariani
52 Rahmalina
52 Ahmad Sibawaihi
52 Misna
50 Arjakiyah
50 Nurlatifah Humairo
50 Nadia Saidah
48 M. Syarif
48 Ahmad Hidayat
48 M. Syahrial
46 Maulida
46 Aditya Olga Nanda Saputri
46 Rafi’ah
44 Syarifah Annisa
44 Nor Aisyah
44 Siti Qomariah
44 Ahmad Ilmi
42 Rabiatul Adawiyah
42 Maria Ulfah
42 Laila
40 Saniah
40 Dafi Jatun Nisa
40 Nor Lia
38 M. Ramadhan
38 M. Ramadhani
38 Hidayatullah
38 Putri Noraini
38 Reka Amelia
38 M. Fikri
38 M. Arsyad
36 Rusidah
36 Nor Hapipah
36 Sapna
34 Norsila Nadila
34 Aris Ramadhani
32 Siti Isnaniah
32 M. Fahrurrozi
32 M. Zunaidi
30 Rahmat Hidayat
30 Abin Nurdin
30 Shalatiyah
30 Anita
30 Novia Aprilianti
28 Hari Yanto
26 M. Arradha
24 Rizki Yanor
20 Khusnul Khatimah
Kelas V
76 Ahmad Haikal Karimi
76 Sarfani
71 Norlatifah
68 Walidi Firdaus
65 Nor Afni
62 Lisdayanti
59 M. Fadil
58 M. Sarifullah
54 Etnes Mareta
54 M. Yopie
54 Riduan
54 Sita Marfu’ah
52 Sovina
52 Rina Salehah
52 Ayu Yuliani
52 M. Lutfi
52 M. Nahrudin
50 M. Zainal
50 Sonia Ayu Ningsih
50 Ahmad Jaini
50 Nor Aida
50 Amrullah
48 M. Fendi
46 Rizki Mahendi
44 Aldiannor
44 Nani Widiya
44 Taufiq Hidayat
44 Masrifah
44 M. Jainal
42 Suhardawati
42 Arini Rabbi
42 M. Yusuf
42 Saprudinnor
42 Auli Fajar Sari
42 Aisyah Rayhan Fadila
42 Lidia Damayanti
40 Zahra
40 A. Boby
40 M. Halim
40 Soleha
40 M. Rizky
40 M. Reza Ruspandi
38 Irawan
38 Normico
38 Nor Afifah
38 A. Syarifuddin
38 M. Fauzi
36 Karina
36 Novi’ah
36 Aldi
36 Firman Firdaus
36 M. Sarwani
36 M. Ramadhani
36 Haris Fadilah
36 M. Rizky Nurdin
34 Nur Rahmatun Nisa
34 M. Ilya
32 Lisa
32 Lisnawati
32 M. Kamaludin
32 Hairin Fuadi
30 Revaldi Ramadhani
30 M. Aldi
30 Okta
28 M. Rizal
28 Hidayati
28 M. Nawawi
28 Hadi Rusadi
27 Annisa
26 Sarifuddin
26 Rahmawati
24 Ahmadi
24 Arbainah
24 Abdul Rahman
0 Ahmad Muhaimin

Hmm, saya jadi bingung nilai beapa yang pantas diberikan untuk mereka. Tapi, masih ada nilai-nilai tugas maupun ulangan haarian. Ini adalah hasil ulangan umum bersama se kota Palangka Raya khusus untuk jenjang MI. Saya pikir ketika banyak faktor yang mempengaruhi nilai ulangan. Kadang-kadang, siswa yng pintar bisa dapat nilai rendah karena gugup atau masalah lain. Siswa yang biasa-biasa saja bisa juga dapat nilai tinggi, misalnya dia berhasil mencontek atau karena kebetulah pilihan dia banyak benarnya. Jadi, saya pikir nilai ulangan umum ini presentasinya untuk nilai raport tidak terlalu besar. Apalagi soal-soalnya dibuat oleh dinas. Makanya, saya lebih fokus nilai dari tugas-tugas atau keseharian mereka.

Walaupun nilainya banyak yang tidak tuntas, tapi saya cukup berbangga sedikit. Sedikit. Ada yang berhasil dapat 80. Yah, walaupun cuma 1 orang. Karena anyak nilai yang tidak tuntas, jadi saya melalukan remedial. Dan hasilnya  cukup menggembirakan. 85% siswa tuntas. Malah ada beberapa yang dapat 100. Mungkin karena remedialnya mengerjakan soal yang sama, jadi lebih mudah.

Categories: Education | 1 Komentar

My First Students Part IX: Agent of Change (Boys)

Hari ini, kalau dengar kata-kata “Agent of Change” pasti yang kepikiran mahasiswa dengan organisasinya. Apa memang begitu? Kalau menurut saya ga sesempit itu. Remaja yang masih menginjakkan kaki di bangu SMA/MA pun dapat disebut Agent of Change, yang di SMP/MTs juga, di SD/MI juga, bahkan yang di jenjang TK/RA/Play group atau PAUD atau apalah namaya, semuanya Agent of Change (Agen Perubahan). So, memjadikan mahasiswa sebagai prioritas agent of change adalah suatu kesalahan fatal bagi bangsa ini. Apalagi mahasiswa biasanya sudah memiliki konsep dasar tersendiri yang tertanam sejak kecil. Jadi, lebih tepat jika agent of change dibina sejak kecil, mulai dari lahir.

Kali ini saya ingin menuliskan profil semua my agent of change dari Darul Ulum. Mungkin saat ini orang tidak memandang mereka, tapi suatu hari nanti, 10 tahun atau 20 tahun lagi, mereka yang akan turut merubah bangsa ini. Kebaikan suatu bangsa tergantung dari anak mudanya, kalau rusak anak mudanya, maka rusaklah bangsa ini. Saya hanya bisa berharap semoga murid-murid saya ini akan menjadi agent of change untuk kehidupan yang lebih baik (dunia dan akhirat) amiin.

Boby

Boby

Haikal

Muhaimin

Aldi

Aldianor

Firman

Irawan

M. Aldi

Yopie

 

 

 

Yusuf

 

 

Zainal

Mico

 

Duan

 

 

Pani

Sarif

Udin

Rizky

Pullah

Taufiq

 

Halim

Ilya

Rizal

 

Firdaus

Categories: Education | Tinggalkan Komentar

Hasil Ulangan Matematika Part I

Hari ini adala ulangan matematika di semua kelas. Jumla soal sebanyak 50 soal. Cukup mengejutkan karena soa pada ulangan hari-hari sebelumnya paling bayak 10 soal. Untuk kelas V 45 soal pilihan ganda dan 5 soal essay, untuk kelas VI semua soal pilihan ganda. Dengan soal sebanyak itu herannya waktu masih tersisa 45 menit semua sudah selesai. Waktu yang diberikan adalah 2 jam. Semoga memang dikerjakan dengan baik.

Saya mencoba memeriksa singkat salah satu jawaban siswa yang tergolong cukup pandai. Ini hasilnya.

Salah satu jawaban siswa

Saya berharap hasil untuk yang lain tidak menegcewakan sehingga tidak ada yang remedial.

Categories: Education | Tinggalkan Komentar

My First Students Part VIII: Teaching Disability

Pernah dengar Learning Disability atau LD? Ld adalah istilah yang dilekatkan pada anak atau individu yang memiliki cara atau gaya belajar yang berbeda (learning differences). Say fikir Learning disability atau ketidak-mampuan belajar adalah istilah yang kejam karena dinilai semena-mena dan memberi konotasi negatif pada siswa yang dicap tersebut, seolah-olah mereka adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan dan tidak mampu belajar dengan baik. Tak jarang masayrakat mengatakan anak LD memperoleh stigma negatif, misalnya bodoh, nakal, jahat, troublemaker, dan lain-lain.

Tengoklah sebentar kalimat-kalimat berikut:

  • Einstein suka melamun. Dia bahkan gagal dalam pelajaran matematika di awal SMA. Namun, kemudian dia menjadi ilmuwan terbesar pada jamannya.
  • Thomas Alva Edison dipukul di sekolahnya karena gurunya mengganggap dia “suka bingung” karena mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Namun, suatu hari dia berhasil menciptakan lampu.
  • Woodrow Wilson (presiden Amerika Serikat), belum bisa membaca sampai berusia sebelas tahun.
  • dll

Mereka adalah contoh orang yang semasa kecil dapat dikatakan mengalami LD. Namun, akirnya mereka berhasil menjadi orang yang terkenal.

Saya fikir istilah Learning Disability harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan (ini jadi mirip proklamasi). Serius, Learning Disability harus diganti dengan Teaching Disability-Ketidakmampuan Mengajar. Learning Disability cenderung seolah-olah siswa yang bersalah dalam belajar, padahal banyak faktor yang mempengaruhi belajar, salah satunya adalah guru. Saya sering teringat cita-cita saya dulu ketika di SMP, ingin menjadi guru bahasa, kenapa karena saya suka pelajaran bahasa indonesia. Kenapa saya suka pelajaran bahasa indonesia? Karena guru yang mengajar enak. Namun, ketika saya menginjak masa SMA, saya ingin menjadi guru kimia, sebab utama karena saya suka cara guru yang mengajar. baru-baru ini saya dengar dari salah seorang adik kelas, hampir 10 mahasiswa dari sekolah yang mengambil kuliah program studi Fisika, sebabnya mereka suka Fisika, karena eh karena guru yang mengajar mudah dipahami. Saya sering mengalami sendiri, tadi apa, bahasa Indonesia, saya males belajar pas SMA, gurunya membosankan, begitu pula dengan pelajaran lain. Pokoknya intinya cara guru mengajar.

Well, dalam part ini saya ingin menceritakan bagaimana ketikmampuan saya mengajar di sekolah ini, MIS Darul Ulum. Saya masih perlu begitu banyak pengalaman dan pengetahuan untuk bisa mengatasi masalah yang saya derita: Teaching Disability.

Ada 2 ruang yang menurut saya, ketidakmamuan mengajar saya cukup parah. Yang pertama kelas V ruang A dan yang ke dua Kelas VI ruang B. Saya tidak tahu apakah sekolah ini menerapkan salah satu sistem jahat dalam dunia pendidikan: Tracking atau tidak. Tracking adalah istilah yang digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkatan kognitifnya. Jadi, kalau ada 5 ruang, pastilahruang E adalah ruang yang sering mendapat cercaan bodoh, bandel atau bebal. Semoga pengelompokan kelas hanya kebetulan saja. Namun, saya melihat perbedaan yang cukup (mungkin tidak signifikan) terutama kelas v A dan kelas V B. Kelas 5 A lebih didominasi siswa laki-laki. 24 siswa laki-laki dari 38 siswa. Selain itu, ini adalah kelas yang siswanya lebih heterogen cara belajarnya. Ketidakmampuan mengajar saya yang pertama di kelas V A, kemudian VI B, VI A dan V B. Kalu kelas 5 A didominasi laki-laki, sebaliknya kelas VI B didominasi siswa perempuan. Siswa perempuan ada 24 dari 33 siswa.

Sebagai guru yang baru keluar dari kandang, saya mencoba menggunakan apa yang saya pelajari di kampus untuk mendidik siswa di sekolah ini. Namun, semua cara yang saya gunakan tidak berhasil, terutama di kelas V A dan VI B. Tercatat ada 2 kejadian yang sangat parah, unforgottable, memalukan, menyedihkan, semua rasa bercampur jadi satu. Ini mungkin salah satu bukti ketik-mampuan saya dalam mengajar, sehingga saya merasa perlu untuk terus belajar dalam mengajarkan matematika.

Serok Sampah

Kasus pertama saya beri judul serok sampah. Ini kejadian yang mungkin sulit saya lupakan ketika mengajar di sekolah ini. Setelah itu saya sangat menyesal sekali telah melakukan hal tersebut. Kejadiannya ketika materi tentang lingkaran atau apa saya lupa. Nah, waktu itu ada salah satu siswa saya di kelas VI B yang sangat susah sekali untuk belajar (mungkin karena saya tidak menarik dalam mengajar), saya pukul pakai serok sampah sampai serok sampah itu rusak. Duh, tega sekali ya saya. Kekerasan dalam dunia pendidikan sangat tidak dibenarkan. Saya akui sya telah gagal dalam medidik.

Sapu

Kasus kedua tentang sapu di kelas V A. Ketika pertama kali saya masuk kelas ini, saya disambut dengan baik. Selesai mengajar saya ditanya guru-guru lain bagaimana kesannya. Ternyata banyak diantara mereka yang mengeluh ini itu. Tapi saya katakan enjoy aja, ga ada kesusahan. Namun, detik berganti detik, jam berganti jam, hari berganti hari, dan bulan berganti bulan perubahan yang terjadi sebagaimana grafik yang turun terus. Tidak ada peningkatan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tetapi tetap tidak membuahkan hasil yang signifikan. Sampailah suatu hari, ada siswa di Mts di yayasan tersebut yang kesurupan. Hal itu membuat sebagian siswa di ruang yang saya ajar ingin tahu. Saya berikan kesempatan bagi yang izin (buang air kecil) tapi nampaknya mereka gak BAK, tetapi melihat orang kesurupan. Saya cukup bersabar, dalam hati yang penting ada siswa-siswa lain yang memperhatikan pelajaran saya. Tiba-tiba ada salah satu guru di kelas 3 yang datang ke ruang saya, beliau marah-marah dan menyuruh saya melarang mengijinkan siswa keluar. Saya jadi meras tidak enak. saya berikan peringatan kepada siswa-siswa tetapi nampaknya mereka banyak yang tidak mengindahkan apa kata-kata saya. Akhirnya, saya ambil sapu ijuk dan emukul satu persatu siswa laki-laki kecuali yang memperhatikan saya. Kelas menjadi hening, ada beberapa siswa yang mau nangis, kemudian saya “marah”.

Cukup, itu cerita ketidak-mampuan saya dalam mengajar. Semoga cukup mereka siswa-siswa saya yang pernah merasakan pukulan dari saya. Saya akui, seumur hidup belajar di sekolah tidak pernah sekalipun dipukul oleh guru, maka dari utu saya sangat menyesal sekali telah melakukan kekerasan dalam dunia pendidikan.

Categories: Education | 1 Komentar

Selamat Jalan Ayah

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Hari ini adalah hari yang tidak menggembirakan bagi saya. Yah, karena salah satu orang tua (ayah) siswa saya telah meninggal dunia karena kecelakaan tadi malam. Mungkin terlalu alay jika saya ikut bersedih, TIDAK, menurut saya, karena begitu cinta saya terhadap siswa-siswi di sekolah ini. Apalagi siswa yang orang tuanya meninggal ini adalah salah satu siswa terbaik di sekolah ini. Sovina, begitulah namanya dipanggil.

Setelah kegiatan pawai ramadan 1432 H

7 Desember 2011, senyum terakhir yang terlihat di sekolah

Kematian memang sesuatu yang tak terduga. Siapa orang yang mengetahui kapan dia mati, tidak ada, Nabi sekalipun tak pernah tau. Semoga ayahnya diterima di sisi Allah SWT, dan dia beserta keluarganya bisa tabah. Amiin.

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

My First Students Part VII: Elementary of Darul Ulum Islamic School Palangka Raya

Part VII harusnya saya tulis pada tanggal 7 Desember 2011, sayangnya kesibukan mengoreksi tugas dan PR siswa saya sehingga penulisan part ini molor. Ini juga saya sempatkan untuk menulis pukul 05:39 WIB sebelum masuk kelas pukul 07:00, Ulangan Umum Semester I hari pertama.

Sekarang saya akan menulis tentang sekolah dasar, tepatnya Madrasah Ibtidaiyah, karena saya mengajar di Sekolah Islam Darul Ulum Palangka Raya atau sering disebut Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darul Ulum atau MIS DU atau DU saja. Jenjang junior dan senior teman saya yang lain yang megang. Saya mulai mengajar di sekolah ini sejak April tahun 2011, jadi belum genap satu tahun. Sekolah ini terletak di pemukiman yang sangat padat penduduknya. Jalan umum tepat di samping sekolah, apalagi si sisi kelas VI adalah jalan yang ramai sekali, apalagi lagi  jalan tersebut terbuat dari papan, jadi kalau ada motor bisa terdengar dengan sangat jelas. Tapi, hala ini nampaknya bukan suatu hambatan bagi siswa untuk bisa belajar dengan lebih baik. Berdasarkan pengalaman ini sya menyimpulkan sendiri bahawa kebisingan tidak selalu mengganggu aktivitas pembelajaran.

Ada 4 ruang yang saya ajar, kelas V ruang A dan B, kelas VI ruang A dan B. Kelas VA 37 siswa, VB 38 siswa, VIA 33 siswa dan VIB 29 siswa. Kelas yang bukan ideal menurut saya, apalagi ini tingkat sekolah dasar dimana setiap siswa yang memiliki berbabagi karakter lebih sulit dididik dibandingkan dengan jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu ruang kelas

Categories: Education | Tinggalkan Komentar

My First Students Part VI: Brain Gym

Ada sesuatu yang kurang jika saya melupakan hal ini; Brain Gym. Brain Gym atau bisa diterjemahkan Senam Otak merupakan tema penelitian saya yang agak terbengkelai karena berbagai macam urusan. Ini bukan merupakan metode pembelajaran, hanya salah satu teknik yang digunakan untuk memotivasi siswa atu intinya siswa lebih tenang dalam belajar (harapannya). Jadi, ceritanya tugaa akhir (skripsi) saya melakukan eksperimen di kelas XI IPS (2 kelas) dengan menerapkan teknik Brain Gym. Judul yang saya ajukan kurang lebih “Eksperimentasi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang Diawali dengan Brain Gym pada Materi Limit Fungsi”.  Kooperati karena sudah biasa diajarkan, tipe STAD karenaa kemudahannya, materi Limit Fungsi karena kesukarannya dan Brain Gym karena banyak siswa yang memiliki prederensi gaya belajar kinestetik di kelas IPS. Dan hasilnya tidak cukup menggembirakan. Kelas XI IPS I (tanpa Brain Gym) memiliki nilai rataan yang lebih rendah disbanding kelas XI IPS 2 (dengan Brain Gym). Namun, ketika diuji ternyata perbedaan itutidak signifikan atau dengan kata lain tidak ada perbedaan hasil belajar matematika baik itu diawali dengan Brain Gym atau tanpa diawali dengan Brain Gym. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Saya tetap akan melakukan eksperimen Brain Gym di kelas atau sekolah yang lain tentunya dalam waktu yang lama, misalnya 1 semester atau 1 tahun sehingga hasilnya lebih signifikan.

Tak mengapa hipotesis pertama tertolak, toh akhirnya saya lulus juga meskipun dengan nilai yang pas-pasan. Saya tetap mengucapakan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada siswa-siswa yang telah bekerja sama dalam penelitian saya ini. Mereka mau menjadi objek dalam penelitian saya.

Berikut ini adalah aktivitas siswa dalam Brain Gym yang berhasil tertangkap kamera.

Water: minum secukupnya sebelum belajar

Brain Button

Cross Crawl

Cross Crawl: slow down

Cross Crawl: semangat sekali nih

Hooks-Ups Fase I: preparing, kayak pocongg!

Hooks-Ups Fase I: ada penampakan di belakang

Hooks-Ups Fase II: rapatkan kedua ujung jari, tarik napas dalam-dalam keluarkan melalui mulut

Selesai, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Categories: Education | Tinggalkan Komentar

My First Students Part V: MU

MU

Ini petualangan bersama murid-murid di jenjang yang lebih tinggi. Senior Hight School alias SMA. Tepatnya di SMA Muhammadiyah-1 Palangka Raya selama kurang lebih 1 semester. Saya terdampar di sekolah ini berdasarkan hasil keputusan pihak kampus, ketika menempuh salah satu mata kuliah yaitu macro teaching. Sebenarnya ketika akan mendaftar mengikuti mata kuliah ini, saya memang berminat praktek mengajar di sekolah yang berlabel islam, pilihan saya jatuh pada SMA Muhammadiyah-1 Palangka Raya. Nah, sebelum saya mengajukan permohonan ke SMA tersebut ke pihak kampus, saya coba bertanya dulu saya dapat tugas di mana? Ternyata mereka bilang saya dapat tugas di SMA Muhammadiyah-1 Palangka Raya. Alhamdulillah ya, sesuatu banget, belum bilang eh ternyata memang nama saya sudah ditempatkan dalam daftar yang bertugas di SMA Muhammadiya-1 Palangka Raya.

Sebut saja sekolah ini MU (bac: em-yu), yah begitulah anak-anak di sekolah ini menyebut sekolah mereka. Saya bertugas di MU bersama belasan teman ga sampai 15 (lupa). Nah, yang berlatar belakang pendidikan matematika ada 4 mahasiswa termasuk saya. Kelas yang dijadikan praktek ada 9. Kelas X ada 5 dan kelas XI ada 4, Program IPA dan IPS. Ketika penentuan kelas mengajar saya tidak hadir, tapi harapannya sih mengajar di kelas IPS. Alasannya, saya yang laki-laki sendiri, jadi kalau yang mengajar perempuan, kasihan sekali baru pertama mengajar sudah bertemu dengan siswa-siswa IPS yang pada umumnya (walaupun ga selalu) lebih susah diatur dibanding kelas IPA. Selain itu, kebetulan saya ingin melakukan penelitian yang berhubungan dengan kelas IPS. Sekali lagi, alhamdulillah ya, sesuatu banget, saya memang dpata tugas mengajar di kelas IPS.

Salah satu sudut MU

Nah, kelas IPS yang saya ajar ada dua ruang, XI IPS 1 dan XI IPS 2. Saya mencoba mempraktekkan teori-teori yang pernah saya pelajari ketika di kampus. Mungkin karena ketkurang-mampuan saya dalam mengajar sehingga banyak metode mengajar yang masih kurang saya terapkan sehingga hasilnya kurang maksimal. Selama pembelajaran, metode kooperatif atau belajar kelompok atau apalah namanya, pastinya kerja kelompo saya terapkan setiapa kali peretemuan.

XI IPS 1: Posisi acak yang sempat kejepret

Kelas IPS memiliki karakteristik yang lebih heterogen dibandingkan kelas IPA. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam pelajaran matematika. Bandingkan dengan kelas IPA, umumnya mereka adalah siswa yang kurang aktif (bergerak) dan lebih aktif (dalam pembelajaran). Jadi, pemandangan yang sudah biasa ketika memasuki kelas IPA yang terlihat adalah kelas yang tenang, tidak ribut, dengan siswa-siswa sudah duduk manis semanis mungkin sambil membaca buku pelajaran dengan wajah yang serius. Sesuatu yang biasa pula jika kita bertanya makabanyak siswa yang angkat tangan berebut menjawab. Sesuatuyang sudah lazim, biasa, umum, sehinga mengajar di kelas IPA menurut pendapat saya lebih mudah dibandingkan kelas IPS.

XI IPS 2: selau narsis di depan siapun termasuk gurunya, di depan orang gila juga (mungkin)

Saya sekedar membandingkan kelas IPS dan Kelas IPS di MU, tidak berlaku untuk kelas di sekolah lain. Di kelas IPS yang siswanya heterogen, menjadi suatu tantangan tersendiri apabila kita bisa menkahlukkan siswa-siswa tersebut. Saya merasa tidak puas mengajarkan siswa yang sudah bisa, nah kalau menagajarkan siswa yang belum bisa, apalagi susah diajari kemudian siswa tersebut bisa, makasaya baru akan merasa puas. Nah, mungkin disitu asyiknya mengajar di kelas IPS, meskipun kadang-kadang saya merasa jenuh karena tidak menemukan hasil yang memuaskan. Saya yakin, seorang guru yang mengajar di kelas yang lebih sulit akan lebih profesional, akan lebih berpengalaman, akan memiliki lebih banyak cara dalam mengajar diabndingkan dengan guru yang mengajar di kelas yang lebih mudah. Sampai kegiatan berakhir saya masih merasa belum bisa menakhlukkan kelas IPS. Masih belum puas meskipun mendapat nilai A untuk mata kuliah ini, nilai yang tepat mungkin adalah C atau D. Saya berharap di lain waktu bisa bertemu lagi siswa-siswa dari kelas program IPS seperti ini.

Categories: Education | 2 Komentar

Blog pada WordPress.com. Tema: Adventure Journal oleh Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.